Disusun
Oleh :
HAFIDH FAJARI (13216131)
ALAN SUPARLAN (10216476)
Kelas
: 1EA12
MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
KATA PENGANTAR
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang maha pengasih
lagi maha penyayang, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, saya bisa menyusun
makalah yang membahas tentang ilmu Budaya Dasar. Tak lupa penulis mengucapkan
trimakasih kepada berbagai pihak yang telah memberi dorongan dan
motivasi. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan
makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh dari itu, saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan makalah ini
menjadi lebih baik.
Saya
juga minta maaf apabila terdapat kesamaan dalam pembuatan tugas softskill ini,
saya juga tak akan lupa mencantumkan link pembahasan dari website yang saya
ambil.
Depok, 23 Januari 2017
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pengertian ilmu budaya dasar identik dengan basic humanities yang berasal dari kata latin humanities yang artinya manusia berbudaya dan halus. Dengan mempelajari ilmu budaya dasar diharapkan seseorang menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus.
Ilmu
budaya dasar /basic humanities tidak identik dengan ilmu budaya (the
humanities). Ilmu budaya dasar mencakup keahlian filsafat, agama, seni dan
sejarah. Tetapi budaya dasar bukanlah ilmu tentang berbagai budaya melainkan
mengandung pengertian umum tentang konsep-konsep dan teori-teori budaya yang
dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah kebudayaan.
Perdebatan
terhadap masalah budaya ini dilakukan dengan menggunakan pengetahuan budaya
baik dengan menggunakan satu keahlian (disiplin) ataupun dengan menggunakan pendekatan
berbagai keahlian.
Tujuan
ilmu budaya dasar menurut Dr Budidarma adalah untuk mengembangkan kepribadian
mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikal
terhadap masalah-masalah budaya sehingga daya tangkap persepsi dan penalaran
mengenai lingkungan budaya
Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan
yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai
makhluk Tuhan YME ciptaan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka
sendiri dan melestarikanya secara turun temurun. Budaya tercipta dari kegiatan
sehari-hari dan juga dari kegiatan-kegiatan yang sudah diatur oleh Tuhan Yang
Maha Kuasa.
Manusia memiliki kehidupan yang sangat
rumit, mereka tidak dapat hidup sendiri, oleh karena itu mereka pasti memiliki
hubungan dengan segala sesuatu di dalam ruang lingkup hidupnya, baik itu
hubungan dengan sang pencipta, sesama manusia, lingkungan sekitarnya maupun
dengan mahluk lain di alam ini. Semua aspek relasi hidup tersebut haruslah
terpenuhi secara merata.
Tentunya manusia perlu beradaptasi dengan keadaan
lingkungan hidup di sekitarnya karena itu merupakan tahap awal pembelajaran
untuk dapat menjadi pribadi yang berkualitas. Dimulai dari pemahaman tentang
norma dan nilai yang berlaku sampai kepada ilmu pengetahuan yang luas.
Sosialisasi antara sesama manusia yang berwawasan
akan membentuk suatu kebudayaan. Kebudayaan tersebut akan menjadi suatu bukti
perkembangan hidup manusia.
Manusia merupakan salah satu
dari mahluk hidup yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh keadaan
lingkungan hidup sekitarnya, baik secara vertikal (genetika,tradisi) maupun
horizontal (geografik, fisik, dan social), setiap manusia memiliki banyak
kebutuhan untuk bertahan hidup. Kebutuhan-kebutuhan tersebut didapatkan dari
lingkungan. Oleh karena itu, lingkungan memegang peranan yang penting dalam
kehidupan manusia.
Manusia sebagai makhluk hidup yang paling sempurna,
melebihi ciptaan Tuhan yang lain. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang
dilengkapi dengan akal pikiran serta hawa nafsu. menanamkan akal dan
pikiran kepada manusia agar dapat digunakan untuk kebaikan mereka masing –
masing dan untuk orang di sekitar mereka. Manusia diberikan hawa nafsu agar mampu
tetap hidup di bumi ini. Salah satu hakekat manusia lainnya ialah manusia
sebagai makhluk sosial, hidup berdampingan satu sama lain, berinteraksi dan
saling berbagi.
1.2 Rumusan Masalah
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
diatas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut.
1.Apa yang dimaksud dengan
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial?
2.Bagaimana interaksi sosial dan
sosialisasi dalam kehidupan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial ?
\
1.3 Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah
diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1.Hakikat manusia sebagai
makhluk individu dan makhluk sosial.
2.Interkasi sosial dan
sosialisasi dalam kehidupan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
a. Manusia
Terdapat beberapa definisi manusia antara lain:
Terdapat beberapa definisi manusia antara lain:
1.
Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan
supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat hakikat
yg mulia.
2. Manusia
adalah kemauan bebas.
3.
Manusia adalah makhluk yg sadar.Kesadaran dalam arti bahwa melalui daya
refleksi yg menakjubkan, ia memahami aktualitas dunia eksternal, menyingkap
rahasia yg tersembunyi dari pengamatan, dan mampu menganalisa masing-masing
realita dan peristiwa.
4.
Manusia adalah makhluk yg sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satuna
makhluk hidup yg mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri ia mampu
mempelajari, manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya.
5.
Manusia adalah makhluk kreatif. Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan
dirinya secara keseluruhan dari alam.
6.
Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yg ideal. Dengan ini berarti ia tidak
pernah puas dengan apa yg ada,
tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yg seharusnya. Idealisme adalah
faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia.
7.
Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai
nilai.Nilai terdiri dari ikatan yg ada antara manusia dan setiap gejala,
perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yg lebih tinggi daripada motif
manfaat timbul.
8.
Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi uniknya
sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yg bersifat
istimewa dan mulia. Ia memiliki kemauan, ikut campur dalam alam yg independen,
memiliki kekuatan untuk memilih dan mempunyai andil dalam menciptakan gaya
hidup melawan kehidupan alami.
b. Hakekat Manusia
1. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas
tingkah laku intelektual dan sosial.
3. yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur
dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
4. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang
tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
5. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha
untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih
baik untuk ditempati.
6. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan
ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas.
7. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung
kemungkinan baik dan jahat.
8. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan
sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya
tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
c. Unsur-unsur Manusia
Sebenarnya ada banyak sekali unsur-unsur yang membangun manusia, namun dari
sekian banyak unsur-unsur itu, di sederhanakan menjadi 2 klasifikasi, yaitu:
1. Unsur Jasmani
Unsur jasmani adalah semua hal
yang berhubungan dengan kebutuhan fisik manusia, seperti makan, minum, dan lain
– lain. Yang jika tidak di penuhi maka akan berakibat buruk bagi manusia itu.
2. Unsur Rohani
Sedangkan unsure rohani adalah semua hal yang berhubungan dengan kebutuhan rohani, atau hati manusia, seperti agama atau keyakinan, ketenangan hati, rasa aman, rasa bahagia dan lain-lain.
Sedangkan unsure rohani adalah semua hal yang berhubungan dengan kebutuhan rohani, atau hati manusia, seperti agama atau keyakinan, ketenangan hati, rasa aman, rasa bahagia dan lain-lain.
Unsur-unsur lain yang membentuk manusia adalah :
1. Jasad : badan kasar manusia
yang nampak pada luarnya, dapat diraba dan difoto dan menempati ruang dan
waktu.
2. Hayat : mengandung unsur hidup,
yang ditndai dengan gerak.
3. Ruh :bimbingan dan pimpinan
tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran,
suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya
kebudayaan.
4. Nafs : diri atau keakuan, yaitu
kesadaran tentang diri sendiri.
d. Manusia Sebagai Makhluk Berbudaya
Manusia
sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa
mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang
membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil,
maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan
keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya.
Manusia
mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari makhluk lainnya, manusia juga
mempunyai akal yang dapat memperhitungkan tindakannya melalui proses belajar
yang terus-menerus.Oleh
karena itu manusia harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan
pendidikan awal dalam suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus
mempunyai ilmu pengetahuan yang berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu
tersebut manusia dapat membedakan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara
kewajiban dan yang bukan kewajiban. Sehingga norma-norma dalam lingkungan
berjalan dengan harmonis dan seimbang. Agar hasil dari pendidikan, yakni
kebudayaan dapat diimplementasikan dimasyaakat.
Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu
negara akan menentukan kualitas kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu
pula pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena
kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.
Karena itu jadilah manusia yang berbudaya. Dengan
menjadi manusia yang berbudaya maka masyarakat akan memiliki sikap yang berakal
budi, bermoral, sopan dan santun dalam menjalani kehidupan diri sendiri ataupun
berbangsa dan bernegara. Sikap Dan sifat manusia yang berbudaya itu juga yang
akan menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang besar yang memiliki jati diri
sendiri sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat.
Manusia berbudaya yang seutuhnya adalah makhluk
yang selalu aktual, yang terus-menerus belajar dan menempuh pendidikan untuk
mengembangkan kepribadiannya, mengembangkan konsep tujuan hidupnya, melakukan
pembaharuan sesuai kemajuan zaman, meningkatkan keterampilan dan daya nalar,
semakin jelas arah hidupnya untuk apa dan mau kemana.
e. Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial
Manusia
adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat
mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Karena manusia menjalankan
peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan
perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui
medium kehidupan sosial.
Esensi manusia sebagai makhluk sosial pada
dasarnya adalah kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya adalah
kehidupan bersama, serta bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan
Manusia Sebagai Makhluk Individu
Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individium yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas.
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu. Dalam diri individi ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya.
Manusia Sebagai Makhluk Individu
Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individium yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas.
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu. Dalam diri individi ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya.
Setiap
manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang sama
persis. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan
tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor fenotip dan
genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia
merupakan faktor keturunan, dibawa individu sejak lahir. Kalau seseorang
individu memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia
juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor
lingkungan (faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam
pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk
pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi
alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana eorang
individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan
anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar.
Karakteristik
yang khas dari seeorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang
memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan
genotip)dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus.
Menurut
Nursid Sumaatmadja (2000), kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu
yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi bio-psiko-fiskal (fisik
dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang
terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya, jika
mendapat rangsangan dari lingkungan. Dia menyimpulkan bahwa faktor lingkungan
(fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari
seeorang.
Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia sebagai Makhluk Sosial
Menurut
kodratnya manusia selain sebagai makhluk individu, mereka juga merupakan
makhluk sosial. Adapun yang dimaksud dengan Istilah sosial adalah ”Sosial”
berasal dari akar kata bahasa Latin Socius, yang artinya berkawan atau masyarakat.
Sosial memiliki arti umum yaitu kemasyarakatan dan dalam arti sempit
mendahulukan kepentingan bersama atau masyarakat. Adapun dalam hal ini yang
dimaksud manusia sebagai makhluk sosial adalah makhluk yang hidup
bermasyarakat, dan pada dasarnya setiap hidup individu tidak dapat lepas dari
manusia lain. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia
selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina
sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu
dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.Seperti
kita ketahui bahwa sejak bayi lahir sampa iusia tertentu manusia adalah mahkluk
yang tidak berdaya, tanpa bantuan orang orang disekitar iatidak dapat berbuat
apa-apa dan untuk segala kebutuhan hidup bayi sangat tergantung pada luar
dirinya sepert iorang tuanya khususnya ibunya. Bagisi bayi keluarga merupakan
segitiga abadi yang menjadi kelompok sosial pertama dikenalnya. Pada
perjalanan hidup yang selanjutnya keluarga akan tetap menjadi kelompok pertama
tempat meletakan dasakepribadian dan proses pendewasaan yang didalamnya selalu
terjadi “sosialisi” untuk menjadi manusia yang mengetahui pengetahuan
dasar, nilai-nilai, normasosial dan etika-etika pergaulan.
Manusia
dapat di katakan makluk sosial karena pada dirinya terdapat dorongan untuk
berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, dimana terdapat kebutuhan
untuk mencari berteman dengan orang lain yang sering di dasari atas kesamaan
ciri atau kepentingan masing-masing. Manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai
manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Tanpa bantuan manusia
lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan
bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau
bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya. Makhluk sosial
adalah makluk yang terdapat dalam beragam aktivitas dan lingkungan sosial.
f. Interaksi Sosial dan Sosialisasi dalam Kehidupan Manusia sebagai Makhluk individu dan Sosial
f. Interaksi Sosial dan Sosialisasi dalam Kehidupan Manusia sebagai Makhluk individu dan Sosial
Manusia
sebagai mahkluk sosial dalam kehidupan sehari-harinya pasti membutuhkan orang
lain. Proses interaksi dan sosialisasi selalu terjadi kapan dan dimanapun
manusia itu berada. Dalam hal ini bentuk interaksi sosial sangat bermacam-macam.Pola
sosialisasi pun ada bermacam-macam.Untuk lebih jelasnya uraian mengenai
interaksi sosial dan sosialisasi adalah sebagai berikut
a. Interaksi Sosial.
a. Interaksi Sosial.
Manusia dikenal sebagai
makhluk individu dan makhluk sosial.Dikatakan makhluk sosial karena manusia
sebagai individu saling membutuhkan dan saling berinteraksi dengan manusia atau
individu lainnya. Oleh sebab itu manusia sebagai makhluk sosial sangat
membutuhkan orang lain pada hidupnya untuk saling memberi, menolong, dan
melengkapi satu sama lain.
Adapun pengertian interaksi
sosial menurut Effendi (2010:46) adalah kata interaksi berasal dari kata inter
dan action. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi
antar individu, kelompok social, dan masyarakat. Dalam hal ini berarti bahwa
manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari hubungan dengan manusia
lainnya.Interaksi juga berarti bahwa setiap manusia saling berkomunikasi dan
mempengaruhi bisa dalam pikiran maupun tindakan.
Menurut Gillin dan Gillin
(Effendi, 2010:46) menyatakan bahwa interaksi sosia adalah hubungan-hubungan
antara orang-orang secara individu, antar kelompok, orang, dan orang perorangan
dengan kelompok.Dalam hal ini interaksisosial bisa dilakukan oleh orang
perorangan, bisa oleh kelompok, juga bisa perorangan dengan kelompok.
Interaksi sosial dimulai dari
hal yang terkecil yaitu saling menegur, menyapa, berjabat tangan, saling
berbicara dan lain-lain. Bahkan dalam pertengkaran atau perkelahianpun termasuk
interaksi sosial.
Faktor yang pertama adalah
imitasi, imitasi merupakan proses peniruan. Kita sebagai makhluk sosial selalu
membutuhkan orang lain termasuk dalam hal meniru perilaku orang lain yang
positif bagi kita. Peniruan sudah dilakukan pada rentan anak usia dini. Anak
usia dini merupakan peniru yang ulung, maka dari itu sikap dan perilaku setiap
orang dewasa perlu dijaga dan diperhatikan agar peniruan yang dilakukan anak
usia dini bersifat positif. Pada proses peniruan ini mudah berubah-ubah karena
perkembangan teknologi didunia ini berlangsung secara global dan sangat cepat.
Yang kedua yaitu Sugesti,
sugesti adalah suatu proses dimana seorang individu menerima pendapat atau
pandangan dari orang lain tanpa adanya kritik terlebih dahulu. Sugesti
merupakan pengaruh psikis yang datang dari dirinya sendiri maupun orang lain.
Orang akan mudah menerima sugesti dari orang lain ketika seseorang sedang ada
pada kondisi yang dilematis. Dalam hubungan interaksi sosial, arti Imitasi dan
sugesti hampir sama perbedaannya adalah dalm imitasi seseorang mengikuti atau
meniru orang lain, sedangkan pada sugesti seseorang memberikan pandangan atau
pendapat menurut dirinya dan diterima oleh orang lain.
Yang ketiga yaitu
Identifikasi, dalam psikologis identifikasi berarti dorongan untuk menjadi
identik atau dorongan untuk menjadi sama dengan orang lain, baik secara lahir
maupun batin.
Faktor yang keempat yaitu
simpati, simpati yaitu perasaaan yang timbul pada orang lain atas dasar
penilaian menurut perasaan didalam dirinya.
Bentuk Interaksi Sosial
Bentuk Interaksi Sosial
Ada beberapa bentuk interaksi
sosial yaitu:
§ Kerjasama
(cooperation),
§ Persaingan
(competition), dan
§ Pertentangan
(conflict).
Menurut Gillin dan Gillin
bentuk kerjasama dibagi dalam dua proses yang didalamnya terdapat bentuk bentuk
khusus. Yang pertama yaitu proses Asosiatif terdiri dari 2 bentuk khusus yaitu
akomodasi dan asimilasi. Yang kedua yaitu proses Disosiatif, disosiatif terdiri
dari tiga bentuk khusus yaitu Persaingan (competition), Kontravnersi (contravention), dan
Pertentangan (conflict).
1.Bentuk Interaksi Asosiatif
a.Kerjasama
(cooperation)
Kerjasama merupakan
salah satu bentuk interaksi sosial yang sering terjadi dimasyarakat pada umumnya.
Kerjasama menggambarkan sebagian besar bentuk interaksi sosial. Dan setiap
bentuk interaksi sosial dapat ditemukan pada setiap kelompok manusia. Kerjasama
timbul karena orientasi orang perorangan terhadap kelompoknya atau kelompok
yang lainnya.
Ada tiga bentuk kerjasama yang biasa dilaksanakan yaitu:
Ø Bargaining,
yaitu pelaksanaan kerjasama atau perjanjian antara dua organisasi atau lebih
mengenai pertukaran barang dan jasa.
Ø Cooperation,
yaitu penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan atau dalam pelaksanaan politik
dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari kegoncangan
dalam stabilitas organisasi tersebut.
Ø Coalition, yaitu kombinasi antar dua organisasi atau
lebih yang mempunyai pandangan dan tujuan yang sama.
b.Akomodasi (accomodation)
Dalam interaksi
sosial, istilah akomodasi berarti suatu kenyataan adanya keseimbangan dalam
interaksi orang perorangan dan kelompok manusia sehubungan dengan nilai dan
norma yang berlaku dimasyarakat.
Ada beberapa bentuk akomodasi, diantaranya:
Ø Coertion
adalah bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya suatu
paksaan.
Ø Compromise
adalah salah satu bentukakomodasi dimana pihak yang terlibat perselisihan
mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan
tersebut.
Ø Arbitration
adalah suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak yang berselisih tidak
sanggup untuk mencapainya sendiri.
Ø Mediation
cara untuk mencapai penyelesaina dalam perselisihan dengan cara menghadirkan
orang ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada.
Ø Concilitation
adalah usaha untuk mengabulkan atau mempertemukan keinginan pihak yang
berselisih agar tercapainya suatu persetujuan bersama.
Ø Tolerantion
adalah bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal. Contohnya toleransi
dalam beribadah.
Ø Stelemate
adalah suatu akomodasi dimana pihak pihak yang berkepentingan mempunyai yang
seimbang, berhenti pada titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.
Ø Adjudication
adalah perselisihan perkara atau sengketa dipengadilan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Manusia sebagai mahluk
individu artinya manusia merupakan satu kesatuan antara jasmani dan rohani.
Seseorang dikatakan sebagai individu apabila kedua unsur tersebut menyatu dalam
dirinya.
Selain sebagai makhluk
individu juga, manusia adalah makhluk sosial. Salah satunya dikarenakan pada
diri manusia ada dorongan untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain
yang satu sama lain saling membutuhkan. Untuk menjadi pribadi yang bermakhluk
sosial setiap individu dihadapkan dengan sosialisasi, yaitu suatu proses
dimana seseorang belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam
masyarakat.
Saran
Setiap individu hendaknya sadar bahwa mereka adalah sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial, sehingga
mereka mampu menghargai satu sama lain dalam arti tidak mengambil hak orang
lain ketika bertindak sebagai makhluk sosial dan sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA